BEM-SI Kutuk Kekerasan pada Aksi Mahasiswa di Stie Bima

BEM-SI Kutuk Kekerasan pada Aksi Mahasiswa di Stie Bima

158
0
SHARE

Bima, Peloporkrimsus.com – Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI) melalui Korda Wilayah NTB, mengutuk keras aksi premanisme Rektor kampus Stie bima terhadap massa aksi.

Pasalnya kebebasan berpendapat sudah diatur dalam pasal 28 huruf e UUD 1945. Namun peristiwa yang baru-baru ini terjadi ketika mahasiswa bersuara justru dibalas dengan kekerasan. Seperti terjadi pada mahasiswa stie bima yang berunjukrasa di depan kampus stie bima, Kamis (15/11/2018) yang berujung ricuh.

Bahkan enam orang dari demonstran sampai terluka dan berlumuran darah menahan rasa sakit di bagian wajahnya. Ia diduga terkena hantaman benda keras.

Menyikapi kekerasan dengan menggunakan cara premanisme yang dilakukan oleh pihak Kampus STIE bima terhadap Mahasiswa atau para pendemo adalah tindakan yang sangat tidak mendidik yang dapat mencedarai nilai-Nilai intelektual, adalah tindakan yang menisbikan atau membabat nilai kebebasan berdemokrasi di civitas akademik.

”Aksi digelar pada Kamis (15/11/2018, Red) di depan kampus stie bima yang melukai enam orang pendemo itu adalah tindakan premanisme” kata Koordinator wilayah NTB Aliansi BEM-SI 2018, Mas’ud yang biasa di sapa Panglima Ngali Melalui
WhatsAapnya. Dia mengungkapkan atas peristiwa yang terjadi tersebut, Aliansi BEM-SI menyatakan rasa kekecewaannya terhadap pihak Rektor yang memperlakukan Mahasiswanya dengan tidak manusiawi.

Terhadap insiden kekerasan yang telah viral dan menjadi konsumsi publik tersebut, maka diminta kepada Bapak Kapolres Bima kota, agar mengusut tuntas sebagai bentuk penegakkan hukum tanpa pandang bulu. “Saya khawatir manakala tidak disikapi secara serius kasus kekerasan ini, akan menjadi preseden buruk bagi penegak hukum. Tidak menutup kemungkinan korban akan mengambil langkah-langkah yang menurut mereka anggap benar dan adil” tutur panglima ngali.

“Kami menuntut kepada pemerintah untuk mempertegas garis demokrasi negara kita yang memaknai suara rakyat adalah suara tuhan ‘Vox Populi Vox Dei’ dan menjaga garis garis demokrasi yang telah ditetapkan rakyat,” tegasnya.

BEM STIH Muhammadiyah bima ini juga menegaskan pihaknya mengecam segala bentuk pengebirian demokrasi, ancaman-ancaman, premanisme, dan regulasi yang mengkoptasi kegiatan mahasiswa di dalam ataupun di luar kampus yang mengakibatkan ruang-ruang aspirasi terbelenggu.

“Saya atas nama ketua Bem Stih Muhammadiyah Bima, yang juga terkafer di Bem SI, yang di beri mandat menjadi KORDA mengajak seluruh mahasiswa/wi seluruh indonesia lebih khususnya yang ada di wilayah bima bersatu, menghilangkan ego, menghilangkan sekat-sekat curiga dan mengedepankan persatuan mahasiswa Indonesia. Serta menguatkan soliditas perjuangan mahasiswa. Satu dibungkam, seribu melawan!” pungkas Panglima Ngali. (MUCH).

LEAVE A REPLY