Sumatra,Peloporkrimsus.com –Sumatra kembali berkabung. Bencana alam yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah meninggalkan jejak kehancuran yang sulit dibayangkan. Hingga Ahad, 7 Desember 2025 pukul 17.00 WITA, data sementara menunjukkan sebanyak 940 orang meninggal dunia, 276 masih dinyatakan hilang, dan lebih dari 5.000 warga mengalami luka-luka.
Tak hanya itu, 849.133 jiwa terpaksa mengungsi, meninggalkan rumah, ladang, serta harta benda yang mereka bangun selama bertahun-tahun. Ribuan keluarga kini hidup dalam ketidakpastian, bertahan di tenda-tenda darurat dengan keterbatasan air bersih, makanan, dan layanan kesehatan.
Wilayah Agam, Sumatra Barat, menjadi lokasi dengan korban jiwa terbanyak, yakni 172 orang meninggal dunia. Sementara itu, Aceh Utara menanggung beban pengungsian terbesar dengan lebih dari 304.000 warga terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Di banyak daerah, warga masih berjuang mencari anggota keluarga yang hilang di tengah reruntuhan bangunan dan material longsor. Evakuasi dilakukan siang dan malam oleh tim SAR, relawan, TNI-Polri, hingga masyarakat setempat yang saling bahu-membahu.
Kerusakan Infrastruktur Melumpuhkan Aktivitas Warga
Kerusakan yang ditinggalkan bencana ini sangat besar. Pemerintah daerah melaporkan:
147.000 rumah rusak
305 jembatan hancur
509 fasilitas pendidikan terdampak
229 fasilitas kesehatan rusak
1.152 rumah ibadah roboh
1.100 fasilitas umum lainnya lumpuh
Ribuan hektar hutan dan lahan produktif juga hilang. Di sejumlah kawasan, tanah berubah menjadi gersang dan rawan longsor, mengancam keselamatan warga yang masih bertahan di sekitar lokasi bencana.
Kerugian Ekonomi Fantastis, Namun Tak Seberapa Dibanding Luka Kemanusiaan
Kerugian ekonomi ditaksir mencapai Rp 68,67 triliun, bahkan beberapa sumber memperkirakan potensi kerugian dapat menembus Rp 200 triliun. Namun angka-angka itu tidak mampu mewakili penderitaan anak-anak yang kehilangan sekolah, orang tua yang kehilangan rumah, dan keluarga yang kehilangan orang tersayang.
Di tenda-tenda pengungsian, banyak warga hanya dapat berbaring di atas tikar tipis sambil menahan dingin. Anak-anak sulit tidur karena trauma. Ibu-ibu menahan tangis sambil mengingat rumah dan kenangan yang kini hilang. Para lansia menunggu obat-obatan yang persediaannya semakin menipis.
Harapan untuk Sumatra: Solidaritas Kita Dibutuhkan
Di tengah kondisi yang memprihatinkan ini, harapan masih menyala. Ribuan relawan datang dari berbagai daerah, membawa logistik, obat-obatan, dan tenaga. Namun kebutuhan di lapangan sangat besar, dan bantuan masih jauh dari cukup.
Bantuan masyarakat—baik berupa donasi, logistik, tenaga relawan, maupun penyebaran informasi yang benar—sangat dibutuhkan untuk meringankan penderitaan para korban.
Sumatra kini bukan hanya membutuhkan dana rekonstruksi, tetapi juga kepedulian, solidaritas, dan empati dari seluruh bangsa. Setiap tindakan kecil dapat berarti besar bagi mereka yang sedang berjuang memulai hidup dari awal.(Team)



