Home Berita Jalan Beton Jadi Tanggul,Rumah Warga Jalan Karyawan Sidrap Seolah Jadi Kolam

Jalan Beton Jadi Tanggul,Rumah Warga Jalan Karyawan Sidrap Seolah Jadi Kolam

357
0

SIDRAP, peloporkrimsus.com
Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) sejak Rabu (22/10/2025) malam hingga Kamis (23/10/2025) pagi kembali membawa duka bagi warga. Genangan air setinggi lutut orang dewasa merendam puluhan rumah di Jalan Karyawan, Kelurahan Majjelling, Kecamatan Maritengngae.

Fenomena banjir ini bukan hal baru — warga bahkan menyebutnya sebagai “tamu tak diundang” yang selalu datang setiap kali langit menumpahkan hujan. Ironisnya, penyebabnya diduga bukan semata curah hujan tinggi, melainkan jembatan deuker beton di Jalan Ganggawa yang terlalu sempit sehingga aliran air tidak bisa mengalir bebas.

“Air dari arah perkantoran dan permukiman sekarang tidak bisa lewat. Akhirnya semua meluap ke rumah kami yang lebih rendah,” ujar Husni, warga Jalan Karyawan, dengan wajah gusar.

“Coba bayangkan, ada kantor BNI, kantor Pos, BRI, bahkan kantor Camat di sekitar sini — semua aliran airnya lari ke satu deuker kecil itu. Sekarang air sudah sampai ke bawah ranjang. Orang tua saya yang sakit pun harus tidur dengan air menggenang di bawah tempat tidurnya,” tambahnya, lirih.

Diameter deuker yang diperkirakan hanya sekitar satu meter dinilai sangat tidak seimbang dengan volume air yang datang dari kawasan padat permukiman dan perkantoran. Air yang seharusnya mengalir ke arah sawah di utara justru tertahan dan meluap kembali, menggenangi rumah-rumah warga.

Tak hanya itu, proyek pembangunan jalan beton di kawasan sekitar disebut-sebut ikut memperburuk situasi. Tanpa saluran pembuangan air yang memadai, badan jalan berubah fungsi menjadi “tanggul buatan” yang menahan aliran air dan mempercepat genangan di sisi pemukiman warga.

“Jembatan di Jalan Ganggawa itu sempit sekali. Harusnya diperlebar atau ditambah satu lagi, terutama di pertemuan Jalan Karyawan dan Ganggawa. Kalau tidak, setiap hujan deras kami akan terus jadi korban,” ujar warga lain dengan nada tegas.

Situasi ini membuat warga Sidrap, khususnya di wilayah perkotaan Pangkajene, mulai kehilangan kesabaran. Mereka menilai sistem drainase daerah ini sudah tidak lagi mampu menghadapi kondisi cuaca ekstrem.

Dengan musim hujan yang baru saja dimulai, kekhawatiran pun semakin besar. Warga berharap Dinas PUPR Sidrap dan pemerintah daerah tidak lagi menunggu laporan atau viralnya video banjir di media sosial untuk bergerak.

“Air boleh datang dari langit, tapi solusinya harus datang dari pemerintah,” kata seorang warga penuh harap.

Bagi warga Sidrap, ini bukan sekadar genangan sementara — tetapi ancaman nyata bagi kesehatan, keselamatan, dan masa depan lingkungan tempat mereka tinggal. Setiap tetes hujan kini membawa kecemasan, bukan kesejukan.

Kini, masyarakat hanya bisa berdoa agar hujan berikutnya tidak kembali membawa bencana yang sama, dan agar jeritan mereka akhirnya benar-benar didengar, bukan diabaikan.”(Team)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here