Home Berita PKB Tanah Bumbu Gelar Tasyakuran, Doa Bersama, dan Dialog Interaktif Penganugerahan Gelar...

PKB Tanah Bumbu Gelar Tasyakuran, Doa Bersama, dan Dialog Interaktif Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional untuk Gus Dur dan Syaikhona Kholil

178
0

Tanah Bumbu,Peloporkrimsus.com – DPC PKB Tanah Bumbu menggelar Tasyakuran & Doa Bersama sekaligus Dialog Interaktif atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden RI ke-4 dan deklarator PKB, serta Syaikhona Muhammad Kholil, ulama besar Nusantara. Acara berlangsung di kantor DPC PKB Tanah Bumbu, Kamis (14/11) sekitar pukul 14.00 Wita.

Turut hadir dalam kegiatan ini Ustadz Hidayatullah, Ketua Fraksi PKB DPRD Tanah Bumbu Haris Fadilah, serta Anggota DPRD Tanah Bumbu H. Irin T, bersama anggota DPRD lainnya dari PKB dan para pengurus serta kader PKB.

Wakil Ketua I DPRD Tanah Bumbu dari PKB, H. Hasanuddin, mengatakan bahwa pribadi Gus Dur selalu menghadirkan cerita yang penuh hikmah, sekaligus menggelitik.

“Banyak pelajaran dari Gus Dur,” ujar H. Hasanuddin membuka dialog. “Beliau itu dermawan, pemersatu bangsa, dan hatinya luas sekali. Kalau ada orang susah, tak peduli siapa, langsung beliau bantu.”

H. Hasanuddin kemudian membagikan salah satu momen yang paling ia ingat bersama Gus Dur di masa awal PKB berdiri.

“Saya masih ingat sekali, suatu hari ada orang datang curhat panjang ke Gus Dur soal hidupnya yang serba sulit,” katanya. “Orangnya bicara hampir setengah jam. Gus Dur cuma mengangguk sambil senyum. Setelah selesai, Gus Dur bilang ke kami, ‘Kalian lihat, orang susah itu bukan minta teori. Mereka cuma ingin didengarkan.’ Itu sederhana, tapi sangat dalam.”

Ia juga mengenang kebiasaan Gus Dur yang selalu meruntuhkan ketegangan dengan humor cerdasnya.
“Pernah juga, saat rapat PKB di tahun 1998, suasananya panas sekali,” cerita H. Hasanuddin sambil tersenyum. “Tiba-tiba Gus Dur bilang, ‘Kalau rapatnya panas, berarti AC-nya mati. Bukan akalnya.’ Semua langsung tertawa, dan suasana cair. Itulah Gus Dur, selalu menenangkan.”

Menurutnya, keteladanan itu yang membuat kader PKB selalu merindukan sosok Gus Dur.
“Beliau tidak pernah memandang perbedaan. Beliau bilang, ‘Jangan memaksa orang menjadi seperti kita. Justru itu yang membuat Indonesia indah’. Itu pesan yang melekat sampai sekarang,” ucap H. Hasanuddin.

Ia juga mengisahkan kedekatan mereka dalam perjalanan awal PKB.
“Kami bersama Gus Dur sejak tahun 1998–1999, awal-awal PKB berdiri,” tuturnya. “Saat itu saya masih wakil ketua Garda Bangsa Kalsel. Saya masih ingat pesan beliau: politik itu alat memperjuangkan keadilan, bukan tempat memperkaya diri. Itu saya pegang sampai sekarang.”

Ia menegaskan bahwa gelar Pahlawan Nasional untuk Gus Dur dan Syaikhona Kholil menjadi momen penting untuk meneguhkan kembali nilai kebangsaan dan keilmuan.

“Gus Dur itu guru bangsa. Syaikhona Kholil itu guru para kiai. Dua tokoh besar yang jalan hidupnya penuh kontribusi,” katanya. “Kami di PKB merasa bangga, terhormat, dan sekaligus terpanggil untuk melanjutkan nilai-nilai mereka.”

Acara di kantor DPC PKB Tanah Bumbu tersebut berlangsung hangat, penuh refleksi, dan menjadi ruang kader untuk memperkuat komitmen kebangsaan yang diwariskan Gus Dur dan Syaikhona Kholil.”(Team)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here