Home Berita Tradisi Spiritual Kesultanan Banjar: Setiap Sulthon Wajib Dibimbing Guru Murabbi Mursyid

Tradisi Spiritual Kesultanan Banjar: Setiap Sulthon Wajib Dibimbing Guru Murabbi Mursyid

221
0

BANJARMASIN ,Peloporkrimsus.com – 11 Januari 2026-Kesultanan Banjar dikenal bukan hanya sebagai kekuasaan politik di masa lampau, tetapi juga sebagai institusi yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual dan keislaman. Salah satu tradisi penting yang terus diwariskan secara turun-temurun adalah keyakinan bahwa setiap Sulthon Banjar wajib memiliki guru Murabbi Mursyid sebagai pembimbing rohani dan penjaga akhlak kepemimpinan.

Dalam catatan Pedatuan Kesultanan Banjar, para Sulthon tidak hanya dinobatkan melalui prosesi adat, tetapi juga melalui proses spiritual yang ketat. Prosesi tersebut mencerminkan keyakinan bahwa kekuasaan harus berjalan seiring dengan tuntunan agama, khususnya Al-Qur’an dan ajaran para ulama.

Daftar Guru Murabbi Mursyid Para Sulthon Banjar
Berdasarkan sumber Pedatuan Kesultanan Banjar, berikut adalah sejumlah Sulthon Banjar beserta guru Murabbi Mursyid yang membimbing mereka:

Sulthon Suriansyah
(Sayed Abdurrahman Ma’ruf Sulaiman)

Sulthon Rahmatullah
(Sayed Abdurrahman Ma’ruf Sulaiman)

Sulthon Hidayatullah
(Sayed Muhammad)

Sulthon Musta’in Billah
(Sayed Ibrahim Ja’far Aminullah)

Sulthon Inayatullah
(Sayed Ibrahim Ja’far Aminullah)

Sulthon Sa’idillah
(Sayed Mahmud Hasan)

Sulthon Tahlilullah
(Sayed Mahmud Hasan)

Sulthon Tahmidullah
(Sayed Abu Bakar)

Sulthon Hamidullah
(Sayed Abu Bakar)

Sulthon Tamjidillah
(Sayed Abu Bakar)

Sulthon Tahmidillah
(Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari)

Sulthon Sulaiman Rahmatullah
(Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari)

Sulthon Adam Al-Wasiqubillah
(Khalifah Syekh Sahabudin)

Sulthon Abdurrahman
(Syekh Muhammad Arsyad Pagatan)

Sulthon Hidayatullah Halilullah
(Syekh Qadhi Haji Mahmud)

Prosesi Penobatan yang Sarat Nilai Al-Qur’an
Dalam tradisi Kesultanan Banjar, penobatan seorang Sulthon tidak dilakukan secara sembarangan. Setiap calon Sulthon terlebih dahulu didudus dengan pembacaan Al-Qur’an 30 juz secara bersama-sama (badarau). Prosesi ini menjadi simbol bahwa kepemimpinan Sulthon harus berlandaskan Al-Qur’an secara utuh dan menyeluruh.

Keyakinan yang hidup di tengah masyarakat Banjar menyebutkan bahwa apabila seorang Sulthon menjauh dari ajaran Al-Qur’an, maka ia diyakini akan menghadapi konsekuensi moral dan spiritual. Karena itulah, para Sulthon Banjar dikenal sangat menjaga hubungan dengan ulama dan guru rohani mereka.

Kepemimpinan, Akhlak, dan Karomah
Dalam tradisi lisan masyarakat Banjar, para Sulthon yang taat pada tuntunan gurunya dan istiqamah dalam ajaran Al-Qur’an diyakini memiliki karomah, yakni keistimewaan yang lahir dari ketakwaan dan akhlak yang luhur. Karomah tersebut bukan dimaknai sebagai kekuatan duniawi, melainkan sebagai keberkahan kepemimpinan yang membawa kemaslahatan bagi rakyat.

Prinsip ini menegaskan bahwa dalam budaya Kesultanan Banjar, kekuasaan tanpa bimbingan spiritual dianggap berbahaya, sementara kepemimpinan yang berlandaskan ilmu dan akhlak diyakini akan membawa kebaikan.

Warisan Nilai yang Tetap Relevan
Catatan Pedatuan Kesultanan Banjar menegaskan bahwa tradisi Murabbi Mursyid bukan sekadar bagian dari sejarah, melainkan warisan nilai yang mengajarkan pentingnya keseimbangan antara kekuasaan, ilmu, dan moralitas. Di tengah tantangan zaman modern, nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan sebagai cermin kepemimpinan yang berintegritas dan berlandaskan spiritualitas.

Catatan: Pedatuan Kesultanan Banjar (Team)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here