Gresik,peloporkrimsus.com – Tim investigasi media yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Bawean (AJB) pantau dan menemukan sejumlah dugaan kejanggalan dalam pelaksanaan proyek sumur bor di wilayah Desa Grejeq, Kecamatan Tambak, Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, yang bersumber dari anggaran Kementerian Pertanian.
Temuan tersebut terkait dugaan metode geolistrik oleh konsultan Geolistrik dari PT Geoatlas Indonesia dalam penentuan titik pengeboran di lokasi Poktan Grejeq Utara, Desa Grejeq, Kecamatan Tambak, Bawean, Kabupaten Gresik, yang tidak ditemukan sumber air dan akhirnya pekerjaan sumur bor tersebut terpaksa dihentikan.

Hasil pantauan di lapangan, bahwa pekerjaan sumur bor dihentikan setelah mencapai kedalaman sekitar 100 meter tanpa menemukan sumber air. Kemudian beralih ke pompanisasi dengan memanfaatkan air sungai. Antara lokasi sumur bor dengan pompanisasi terbilang cukup jauh, namun masih dalam wilayah Dusun Grejeq Utara.
Menurut Jumahat (42), salah satu perangkat desa Grejeq yang menjabat sebagai unit pengelola keuangan dan kegiatan (UPKK), mengatakan bahwa Kelompok Tani (Poktan) Grejeq Utara mendapatkan bantuan dari Kementerian Pertanian. Bantuan tersebut sebesar sekitar Rp150 juta, untuk konstruksi irigasi perpompaan pengelolaan air irigasi pertanian.

“Pelaksanaan pekerjaan sumur bor dilaksanakan pada bulan Juni 2026 di lokasi Grejeq Utara, namun berakhir dengan kegagalan. Pasalnya, selama 15 hari pekerjaan dengan hasil kedalaman mencapai sekitar 90 hingga 100 meter belum juga menemukan sumber air. Sedangkan di lokasi tersebut merupakan titik yang sudah ditentukan oleh konsultan Geolistrik dari PT. Geoatlas Indonesia,” ujarnya.
Jumahat mengungkapkan, setelah tidak menemukan sumber air dari hasil geolistrik sebagai acuan, akhirnya pihak Poktan Grejeq Utara melaporkan ke pihak jajaran dari UPT Pertanian Wilayah Bawean, dan pemerintah desa terkait masalah tersebut. Setelah berkoordinasi dan beberapa kali musyawarah, akhirnya diambil keputusan untuk berpindah lokasi ke pinggiran sungai yang masih wilayah Dusun Grejeq Utara. Perpindahan lokasi juga merubah dari pekerjaan konstruksi irigasi perpompaan menjadi pompanisasi. Dimana pekerjaan pompanisasi tersebut memanfaatkan air dari sungai untuk irigasi pertanian. Senin (2/11/2026).
“Perubahan terhadap pekerjaan konstruksi irigasi perpompaan dikarenakan terserapnya anggaran untuk biaya pembuatan sumur bor dan pengadaan barang. Sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pengeboran sumur bor baru di titik yang belum dilaksanakan metode geolistrik, karena sekali melakukan penelitian hingga menghasilkan geolistrik menghabiskan anggaran sebesar Rp6.500.000, Sedangkan biaya per meter untuk pembuatan sumur sekitar Rp700.000,” tandas Jumahat. (FR)



