Home Berita Memperingati Raja ke 16 Kesulttanan Banjar : Sultan Hidayatullah Ulama Berjubah Kuning...

Memperingati Raja ke 16 Kesulttanan Banjar : Sultan Hidayatullah Ulama Berjubah Kuning yang Mengukir Sejarah

740
0

Banjarmasin, peloporkrimsus.com – Di Jalan Pangeran Hidayatullah, Kelurahan Sawah Gede, Kecamatan Cianjur, berdiri sebuah pusara sunyi yang menyimpan kisah heroik. Di sinilah bersemayam Sultan Hidayatullah Al Watsiq Billah, raja ke-16 sekaligus Sultan terakhir Kesultanan Banjar, yang oleh masyarakat Cianjur dikenal sebagai Ulama Berjubah Kuning.

Asal Usul dan Penobatan

Sultan Hidayatullah, yang lahir dengan nama Gusti Andarun di Martapura, Kalimantan Selatan pada tahun 1822, adalah putra Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam Al Watsiq Billah. Sejak muda, beliau dibekali nilai-nilai agama dan kepemimpinan yang kokoh. Pada tahun 1843, ia diangkat secara resmi sebagai Sultan Banjar, diikuti oleh pengukuhan rakyat dengan gelar Sultan Hidayatullah Al Watsiq Billah.

Sang Panglima Perang

Di tengah berkobarnya Perang Banjar (1859–1862), Sultan Hidayatullah muncul sebagai pemimpin utama, menyatukan kekuatan rakyat melawan penjajahan Belanda. Dengan semboyan “Dalas Hangit, Waja Sampai ka Puting” (Pantang mundur, berjuang sampai akhir), beliau memimpin perlawanan dari Martapura hingga Tanah Dusun.

Strategi cerdik dan dukungan rakyat membuat pasukan Belanda kewalahan, meski mereka mengerahkan semua kekuatan mereka. Sultan Hidayatullah pun dijuluki Hoofdopstandeling (Kepala Pemberontak) oleh Belanda—musuh utama yang harus ditumpas.

Pengkhianatan dan Penangkapan

Namun, Belanda tidak hanya bertempur di medan perang. Mereka melancarkan siasat licik dengan menyandera keluarga Sultan, memaksa beliau keluar dari basis perlawanan. Setelah disergap di Martapura dan dibawa ke Banjarmasin dan Batavia, pada 17 Maret 1862, Sultan diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat.

Akhir Hayat di Pengasingan:

Di pengasingannya, Sultan Hidayatullah tidak larut dalam kesedihan. Ia menjelma menjadi sosok ulama yang menebar kebaikan, dikenal dengan jubah kuningnya. Beliau mengajarkan agama dan memberikan ketenangan kepada masyarakat Cianjur hingga dijuluki Ulama Berjubah Kuning dari Banjar

Pada 2 November 1904, dalam usia 82 tahun, Sultan Hidayatullah berpulang dengan damai. Beliau dimakamkan di Pusara Bukit Joglo, Cianjur, yang kini menjadi saksi bisu perjuangan dan pengabdian seorang raja.

Warisan Abadi

Sultan Hidayatullah bukan sekadar raja terakhir Kesultanan Banjar; ia adalah simbol perlawanan, kesetiaan, dan keimanan. Dari medan perang yang penuh api hingga jalan pengasingan yang sunyi, beliau tetap menjaga martabat bangsanya. Kisah hidupnya adalah pesan abadi tentang keberanian dan pengabdian yang tak lekang oleh waktu.

Mari kita kenang bersama sosok yang telah mengukir sejarah ini, sebagai pengingat akan perjuangan dan pengorbanan demi tanah air”.(Team)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here