Home Berita Kepala Puskesmas Madapangga, Bantah Tudingan Warga Desa Rade Terkait Meninggalnya Ernawati.

Kepala Puskesmas Madapangga, Bantah Tudingan Warga Desa Rade Terkait Meninggalnya Ernawati.

663
0

Bima, PH-Krimsus :  Menyikapi berbagai tudingan warga Desa Rade terkait meninggalnya Anak Baru Gede (ABG), Ernawati (15) asal Desa Rade yang meneguk obat pembasmi serangga di Puskesmas Madapangga Rabu (31/1) lalu. Pihak Puskesmas Madapangga angkat bicara, bahwa terkait meninggalnya pelajar kelas 3 MA Al-Falah tersebut telah dilakukan tindakan sesuai SOP.

“Pihak Puskesmas menelantarkan korban peminum racun serangga tidak benar. Semua dilakukan sesuai SOP, ” ujar Koordinator IGD Puskesmas Madapangga, Arifin, Amd. Kep, dikediaman Kepala Puskesmas Madapangga, Jum’at (2/2).

Kata Dia, korban tiba di Puskesmas Madapangga pada pukul 09.40 Wita dalam keadaan sudah tidak sadar (pingsan), namun masih bernafas. Melihat kondisi pasien seperti itu, pihaknya memberikan tindakan seperti memasang oksigen dan memasang infus untuk pertolongan pertama. Tapi, perlu diketahui, bahwa korban saat itu sudah stadium kritis, “Begitu pasien peneguk racun itu masuk di IGD. Petugas langsung menanganinya dengan memberikan tindakan yakni memasang oksigen dan cairan, ” tuturnya.

Diakuinya, dirinya membenarkan ada rencana keluarga korban untuk merujuknya. Tapi saat itu mobil Ambulance yang ada di Puskesmas tidak bisa digunakan karena rusak parah. Sedangkan mobil yang satunya baru saja keluar dipinjam oleh Puskesmas Bolo untuk membawa pasien rujukan.
“Tidak benar kalau mobil ambulance digunakan oleh Kepala Puskesmas untuk ke Kota Bima. Dan hal itu bisa ditanyakan ke Puskesmas Bolo karena mereka yang meminjam mobil ambulance saat itu, ” jelasnya.

Akan tetapi, jika dalam pelayanan terhadap ABG itu dianggap kurang maksimal. Mewakili pihak Puskesmas, saya meminta maaf. Tapi yang jelas, semua tahapan dalam melayani pasien saat itu dilakukan sesuai SOP.
“Atas meninggalnya ABG itu, kita turut berduka. Dan sebagai manusia kita telah berusaha, ” timpalnya.

Sementara Kepala Puskesmas Madapangga, Evi juniarti, SKM yang dikonfirmasi dikediamanya mengatakan, “Saat itu saya dalam keadaan sakit, sejak Selasa malam (30/1), sehingga saat ABG asal Desa Rade tersebut dibawa ke Puskesmas setempat tidak diketahuinya. Akan tetapi, saya mendapat informasi terkait hal itu dari Kepala Tata Usaha (TU) bahwa ada pasien asal Desa Rade yang minum racun. Setelah mendapat informasi itu, saya langsung mengontak supir ambulance, namun mobil ambulance sudah keluar 20 menit sebelum pasien itu masuk di IGD. Sehingga sebagai alternatifnya, saya kontak ambulance milik RSUD Sondosia karena kuatir pasien itu memerlukan rujukan” Ungkapnya.

“Sebelum Ernawati dibawa keluarganya ke Puskesmas. Saya sudah tidak masuk kerja karena sakit. Namun, koordinasi dengan anggota tetap dilakukan melalui seluler, ” ujar Evi.

Dirinya membenarkan kalau mobil ambulance yang biasa digunakan untuk rujuk pasien saat itu tidak ada ditempat. Hal itu terjadi karena mobil ambulance dipinjam sama pihak Puskesmas Bolo untuk merujuk pasien. Sedang mobil yang satunya dalam kondisi rusak parah.
“Kalau masih ragu dengan apa yang saya katakan, silahkan tanyakan ke pihak Puskesmas Bolo. Sedangkan mobil yang rusak itu sering kali dimasukan ke bengkel, bahkan anggaran puluhan juta sudah dihabiskan untuk memperbaikinya, dan sudah diajukan ke pemerintah atas untuk segera diganti dengan baru, ” tuturnya.

Terkait masalah penanganan pasien asal Desa Rade itu, dirinya melakukan koordinasi dengan petugas yang menangani saat itu. Berdasarkan hasil koordinasi, semua tahapan dalam melayani pasien sudah dilakukan. Dan petugas saat itu memberikan kepastian kepada saya kalau oksigen dan cairan sudah dipasang.
“Saya tetap koordinasi dengan petugas pasca pasien yang minum racun serangga itu masuk IGD. Jadi tidak benar kalau pihak Puskesmas menelantarkan pasien, ” bebernya.

Tak hanya itu, pasca mengetahui pasien tersebut telah meninggal dunia, dirinya menyuruh suaminya untuk mengunjungi pihak keluarga korban. Hal itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian kita terhadap pasien. Dan berdasarkan pengakuan suaminya, pada malam ta’ziah yang ketiga, suaminya diminta oleh keluarga korban untuk memberikan siraman rohani.

“Pasca pasien itu meninggal. Saya suruh suami untuk melakukan ta’ziah ke rumah duka. Bahkan suami saya sudah berbicara banyak dengan keluarga korban. Jadi, tidak benar kalau kita dianggap tidak peduli terhadap korban, ” ungkapnya.(rif).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here