Tanah Bumbu,Peloporkrimsus.com– 9 Juni 2026, Di tengah perairan Selat Pulau Laut, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, terdapat sebuah pulau kecil yang menyimpan jejak sejarah panjang peradaban pesisir dan penyebaran Islam di wilayah tersebut. Pulau Suwangi, yang dihuni keturunan Suku Bugis sejak awal abad ke-19, hingga kini masih mempertahankan warisan budaya, sejarah, dan religi yang bernilai tinggi.
Namun di balik kekayaan sejarah yang dimilikinya, masyarakat Pulau Suwangi masih menghadapi berbagai keterbatasan infrastruktur dan aksesibilitas. Salah satu harapan terbesar warga saat ini adalah adanya perhatian dari pemerintah daerah untuk membangun jembatan atau akses yang layak menuju kawasan pemakaman yang berada di pulau tersebut, sehingga memudahkan masyarakat dan peziarah yang ingin berziarah ke makam keluarga maupun tokoh agama yang dimakamkan di sana.
Pulau Suwangi secara administratif berada di wilayah Kabupaten Tanah Bumbu. Mayoritas penduduknya merupakan keturunan Suku Bugis yang telah menetap secara turun-temurun sejak sekitar tahun 1800-an. Saat ini, generasi keturunan mereka telah mencapai generasi ketujuh.
Masyarakat setempat menggantungkan hidup dari hasil laut dan perkebunan. Sebagian besar bekerja sebagai nelayan, petani, pekebun, serta pembudidaya ikan dan udang.
Namun seiring berjalannya waktu, jumlah penduduk terus berkurang. Dari sebelumnya menjadi salah satu perkampungan pesisir yang cukup ramai, kini hanya sekitar 25 kepala keluarga yang masih bertahan tinggal di Pulau Suwangi.
Minimnya fasilitas dasar menjadi salah satu penyebab berkurangnya jumlah penduduk. Hingga saat ini, warga masih menghadapi keterbatasan akses listrik, sarana pendidikan, transportasi, dan infrastruktur penunjang lainnya.
Pulau Suwangi tidak hanya menyimpan sejarah panjang, tetapi juga memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar. Di berbagai sudut pulau masih ditemukan perkebunan karet serta aneka tanaman buah seperti durian, rambutan, mangga, ramania, rambai, dan binjai.Duku ,Cempedak
Beberapa pohon durian dan binjai bahkan diperkirakan telah berusia ratusan tahun dan menjadi saksi perjalanan sejarah pulau tersebut dari masa ke masa.
Sejak perubahan status kawasan menjadi Taman Wisata Alam (TWA) pada 11 Oktober 2019, peluang pengembangan wisata berbasis konservasi dan pemberdayaan masyarakat dinilai semakin terbuka.
Selain kekayaan alamnya, Pulau Suwangi juga dikenal memiliki nilai sejarah dan spiritual yang kuat. Di pulau ini terdapat ratusan makam warga Muslim yang telah dimakamkan secara turun-temurun selama berabad-abad.
Salah satu yang paling dikenal masyarakat adalah makam seorang ulama yang diyakini bernama Sayid Sholeh atau Habib Sholeh. Berdasarkan cerita yang berkembang di kalangan masyarakat setempat, ulama tersebut merupakan pendakwah yang berlayar dari pulau ke pulau untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah pesisir Kalimantan Selatan pada sekitar abad ke-19.
Menurut penuturan warga, dalam perjalanan dakwahnya beliau mengalami sakit dan akhirnya wafat di Pulau Suwangi. Jenazahnya kemudian dimakamkan di pulau tersebut bersama kawasan pemakaman masyarakat setempat yang kini menjadi salah satu tujuan ziarah bagi warga Tanah Bumbu dan sekitarnya.
Hingga saat ini, makam tersebut masih sering dikunjungi peziarah yang datang untuk berdoa dan mengenang jasa para pendahulu dalam menyebarkan syiar Islam di wilayah pesisir Kalimantan Selatan.
Warga Harapkan Pembangunan Jembatan Menuju Area Pemakaman
Meski memiliki nilai sejarah dan religi yang tinggi, akses menuju kawasan pemakaman dinilai masih belum memadai. Kondisi ini kerap menyulitkan warga maupun peziarah yang hendak mengunjungi makam keluarga dan makam ulama tersebut.
Selain itu, bangunan kubah makam yang menaungi makam Habib Sholeh juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat faktor usia dan terpaan cuaca pesisir yang cukup ekstrem.
Ketua RT 9 Pulau Suwangi, Sarwani dan Warga berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian terhadap pelestarian situs sejarah dan religi tersebut.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah daerah untuk memperbaiki kubah makam yang sudah mulai rusak serta membangun jembatan atau akses yang lebih layak menuju kawasan pemakaman. Dengan adanya akses yang baik, masyarakat dan peziarah akan lebih mudah berziarah ke makam keluarga maupun makam ulama yang dimakamkan di Pulau Suwangi,” ujarnya.
Warga menilai keberadaan makam ulama, ratusan makam bersejarah, serta kekayaan alam Pulau Suwangi merupakan aset yang berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata religi dan wisata alam yang tetap memperhatikan prinsip konservasi lingkungan.
Pengembangan kawasan tersebut tidak hanya dinilai penting untuk menjaga warisan sejarah, budaya, dan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat yang selama ini hidup di wilayah yang relatif terpencil.
Harapan masyarakat Pulau Suwangi sederhana. Mereka ingin warisan sejarah yang telah bertahan lebih dari dua abad tetap terjaga, dan akses menuju pemakaman yang menjadi tempat peristirahatan para leluhur dapat dibangun dengan lebih baik. Dengan demikian, generasi mendatang tetap dapat mengenang sejarah, sementara para peziarah dapat berkunjung dengan aman dan nyaman.
Kini, Pulau Suwangi tidak hanya menyimpan kisah masa lalu, tetapi juga menyimpan harapan besar agar perhatian pembangunan dapat menjangkau pulau kecil yang sarat nilai sejarah, budaya, dan religi tersebut.”(Team)



