Home Berita Potret Malam Stasiun Krian.

Potret Malam Stasiun Krian.

13233
1

Sidoarjo, peloporkrimsus.com – Dunia malam selalu saja menawarkan inspirasi dan beraneka pemikiran baru, tentu saja bagi mereka yang mencintai berpikir dan bagi mereka yang mencintai permenungan. Tapi bagi para wanita ini, dunia malam merupakan sumber penghasilan tambahan bagi mereka para wanita malam  (PSK) di kawasan stasiun krian kabupaten sidoarjo.

Jumlah tenaga PSK di kawasan stasiun krian ini tidak jelas, karena disamping belum ada pendataan dari dinas sosial, polsek maupun polres setempat, juga karena para PSK tidak terikat kontrak kerja dengan klien dan membernya maupun out sourching dengan perusahan penyalur lainnya, jadi status mereka bebas transfer dan wirausaha mandiri. namun jumlahnya akhir-akhir ini semakin meningkat saja dengan semakin tingginya arus PHK yang terjadi di beberapa perusahaan.

Usia para PSK beraneka ragam, mayoritas berusia 30-50an tahun meskipun ada di antara mereka yang berusia di atas 50 tahun, alias nenek-nenek. Tentu saja ini mempengaruhi pelayanan atau service yang diberikan, namun hal ini tak menjadi masalah bagi para klien yang tampaknya sangat lilo, ikhlas, mensyukuri dan bisa menerima kondisi fisik PSK maupun tempat yang digunakan untuk melampiaskan gelora nafsu mereka. “Apalah arti bentuk, yang penting rasanya cuy”, mungkin begitu cara berfikir mereka.

Make-up bedak tebal, lipstik merah menyala, wewangian mencolok adalah khas para PSK. Dibantu dengan pencahayaan minim semakin menyembunyikan bentuk dan warna asli mereka. kegelapan dan ketiadaan cahaya di lokasi mengup-grade usia mereka dari yang aslinya, 30 tahun menjadi seperti 21 tahun, 37 menjadi 24, dan 50 menjadi 32. Gaya bicara yang di sexy-sexy kan ditambah sedikit desahan halus dari mulut adalah salah satu trik untuk memancing gairah para calon pelanggan, tidak ketinggalan sentuhan-sentuhan lembut pada tubuh juga sering dilayangkan.

Para PSK yang mengaku datang dari berbagai daerah yaitu jombang, nganjuk, kediri, dll, saban harinya datang di lokasi sekitar jam 7 malam dan meninggalkan selepas tengah malam atau menyesuaikan kondisi tubuh mereka. tarif yang dipasang berbeda-beda tergantung lokasi yang digunakan dan durasi waktu, untuk permainan yang di lakukan di sekitar rel kereta api ditarik tarif sekitar Rp 50.000- Rp 100.000,-, biasanya dilakukan di sawah-sawah warga, di dekat rel, di bawah pohon, di kebun warga dengan beralaskan plastik tipis maupun karpet.

Klien yang datang-pun dari beragam usia, mulai remaja sampai kakek-kakek semuanya ada, namun yang sering membuat PSK kecewa para pengunjung datang tidak memanfaatkan jasa mereka, hanya duduk-duduk melihat-lihat saja.

Membicarakan tentang fenomena pelacuran tidak akan ada habisnya, akan terus berubah modus, trik, dan cara mengikuti perkembangan masa. Untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan pelacuran dibutuhkan pikiran yang arif, da’wah yang kaffah, dan isi kepala yang bijaksana, sejalan dengan salah satu kata mutiara “laa takun rothban fatu’shoro, walaa yaabisan fatukatssaro”.(Tfq)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here