Home Berita Rumah Peninggalan KH Kasyful Anwar di Martapura, Saksi Sejarah Pendidikan Islam yang...

Rumah Peninggalan KH Kasyful Anwar di Martapura, Saksi Sejarah Pendidikan Islam yang Tetap Berdiri Lebih dari Seabad

41
0

MARTAPURA,Peloporkrimsus.com – 13 Agustus 2026 -Di tengah perkembangan Kota Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, terdapat sebuah rumah bersejarah yang menyimpan jejak perjalanan seorang ulama yang memiliki peran penting dalam perkembangan pendidikan Islam di daerah tersebut. Rumah peninggalan KH .Muhammad Kasyful Anwar bin H Ismail Al-Banjari di kawasan Kampung Melayu menjadi salah satu tempat yang mengingatkan masyarakat pada kiprah ulama besar dan perjalanan pendidikan keagamaan di Kalimantan Selatan.

Bangunan tersebut bukan sekadar rumah tua. Di balik dinding dan ruang-ruangnya tersimpan kisah tentang perjuangan dakwah, pendidikan, serta kehidupan seorang ulama salah satu Zuriat Datuk syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau yang di kenal dengan Datuk kalampaian yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan Islam.

KH Kasyful Anwar dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan pendidikan Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Dalam berbagai catatan sejarah mengenai perkembangan lembaga pendidikan tersebut, kiprahnya dikaitkan dengan proses perubahan sistem pendidikan dari pola pengajian berbentuk halaqah menuju sistem pendidikan yang lebih terstruktur.

Sebelum berkembang menjadi lembaga pendidikan formal seperti yang dikenal masyarakat saat ini, kegiatan pendidikan di lingkungan Darussalam berawal dari sistem pengajian. Madrasah Darussalam kemudian berkembang melalui peran sejumlah ulama, di antaranya KH Jamaluddin dan KH Hasan Ahmad pada sekitar 1914. Dalam perjalanan selanjutnya, KH Kasyful Anwar turut memberikan kontribusi penting dalam pembentukan dan pengembangan sistem pendidikan di lingkungan Darussalam.

Perubahan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan Islam di Kalimantan Selatan. Sistem pendidikan yang semakin terorganisasi memungkinkan kegiatan belajar mengajar berlangsung secara lebih terstruktur, tanpa meninggalkan tradisi keilmuan Islam yang telah berkembang di tengah masyarakat.

Keberadaan rumah peninggalan KH Kasyful Anwar di Kampung Melayu semakin menarik perhatian karena bangunan tersebut disebut telah berusia lebih dari satu abad. Hingga kini, bangunan itu masih berdiri dan menjadi bagian dari jejak sejarah kehidupan ulama di Martapura Kalimantan Selatan

Rumah tersebut juga memiliki hubungan dengan tradisi keagamaan masyarakat setempat. Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Abah Guru Sekumpul pernah datang ke rumah tersebut, terutama dalam kegiatan haul sahibul bait.

Kisah-kisah semacam itu membuat rumah tersebut tidak hanya dipandang sebagai bangunan berusia tua, tetapi juga sebagai salah satu ruang yang menyimpan memori perjalanan para ulama dan masyarakat dalam menjaga tradisi keagamaan.

Di tengah perubahan zaman dan perkembangan kawasan perkotaan, keberadaan bangunan lama seperti ini menjadi semakin penting. Sebab, sejarah tidak selalu tersimpan dalam buku atau dokumen. Sebagian sejarah juga melekat pada bangunan, benda-benda peninggalan, serta cerita yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Selain nilai sejarahnya, rumah tersebut juga memiliki cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Bangunan yang masih kokoh itu disebut pernah dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat berlindung ketika banjir melanda kawasan sekitar.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa bangunan bersejarah tidak hanya memiliki nilai masa lalu. Dalam situasi tertentu, keberadaannya juga masih memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.

Keberlangsungan bangunan selama lebih dari satu abad tentu menjadi sesuatu yang menarik untuk diperhatikan. Namun, keberadaan rumah tua tidak hanya berkaitan dengan kekuatan konstruksi. Pemeliharaan, perhatian masyarakat, serta kesadaran untuk menjaga peninggalan sejarah menjadi faktor penting agar warisan tersebut dapat terus dikenali oleh generasi berikutnya.

Di dalam rumah tersebut, masih terdapat sejumlah benda yang disebut berkaitan dengan kehidupan dan perjalanan masa lalu, antara lain ranjang, lemari, kitab-kitab, serta foto-foto lama.

Benda-benda tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi masyarakat dan pemerhati sejarah, keberadaannya memiliki nilai tersendiri karena dapat memberikan gambaran mengenai kehidupan seorang ulama pada masa lalu.

Kitab-kitab yang tersimpan, misalnya, tidak hanya merupakan benda koleksi. Keberadaannya dapat menjadi pengingat tentang tradisi membaca, mengkaji, dan mengajarkan ilmu yang menjadi bagian penting dari kehidupan ulama dan pesantren di Kalimantan Selatan.

Begitu pula foto-foto lama. Setiap gambar dapat menjadi potongan dokumentasi yang membantu masyarakat memahami perjalanan tokoh, keluarga, maupun lingkungan sosial pada masa tersebut.

Karena itu, rumah peninggalan KH Kasyful Anwar dapat dilihat sebagai bagian dari warisan sejarah lokal yang memiliki nilai pendidikan. Bukan hanya bagi kalangan pesantren dan masyarakat yang memiliki perhatian terhadap sejarah ulama, tetapi juga bagi generasi muda yang ingin mengenal lebih dekat perjalanan pendidikan Islam di Kalimantan Selatan.

Menjaga Warisan Agar Tidak Hilang Ditelan Zaman

Di era modern, keberadaan bangunan bersejarah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Perubahan lingkungan, usia bangunan, serta minimnya dokumentasi dapat membuat sebuah peninggalan sejarah perlahan kehilangan jejaknya.

Karena itu, upaya mendokumentasikan rumah peninggalan KH Kasyful Anwar menjadi penting. Dokumentasi tidak hanya berupa foto bangunan, tetapi juga pencatatan sejarah, benda-benda peninggalan, cerita keluarga, serta kesaksian masyarakat yang mengetahui perjalanan rumah tersebut.

Langkah tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menjaga memori kolektif masyarakat Martapura. Sebab, ketika sebuah bangunan bersejarah hilang, yang ikut berisiko hilang bukan hanya bentuk fisiknya, tetapi juga cerita dan konteks sejarah yang melekat di dalamnya.

Rumah peninggalan KH Kasyful Anwar di Kampung Melayu pada akhirnya bukan sekadar bangunan tua. Ia menjadi pengingat bahwa perkembangan pendidikan Islam di Kalimantan Selatan memiliki perjalanan panjang dan melibatkan banyak tokoh yang mencurahkan ilmu, tenaga, dan pemikiran untuk generasi setelahnya.

Merawat peninggalan tersebut berarti memberi kesempatan kepada generasi mendatang untuk melihat bahwa sejarah pendidikan dan dakwah di daerah ini tidak lahir secara tiba-tiba. Ada perjalanan panjang, ada perjuangan para ulama, dan ada warisan ilmu yang terus hidup hingga hari ini.

Rumah tersebut berlokasi Lokasi: Kampung Melayu, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.(Team)
Sumber informasi: Kesultanan Banjar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here