Home Berita Sedekah Bumi Desa Dibe Lamongan: Merawat Tradisi Leluhur, Memperkuat Kebersamaan dan Nilai...

Sedekah Bumi Desa Dibe Lamongan: Merawat Tradisi Leluhur, Memperkuat Kebersamaan dan Nilai Keagamaan

6
0

LAMONGAN,peloporkrimsus.com – 9 September 2026, Tradisi Sedekah Bumi kembali menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Desa Dibe, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Kegiatan yang digelar secara turun-temurun ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengungkapkan rasa syukur atas limpahan rezeki, hasil pertanian, sekaligus menjaga warisan budaya dan nilai-nilai kearifan lokal.
Sedekah Bumi di Desa Dibe umumnya dilaksanakan pada bulan Muharam atau Sura.

Dalam tradisi masyarakat setempat, pelaksanaannya juga kerap dikaitkan dengan hari-hari tertentu yang telah diwariskan secara turun-temurun, termasuk rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan haul atau penghormatan terhadap leluhur, salah satunya Haul Mbah Karimah.

Rangkaian kegiatan berlangsung dengan penuh khidmat sekaligus semarak. Warga membawa berbagai hasil bumi dalam bentuk kirab, tumpeng dan berbagai sajian sebagai simbol rasa syukur. Tradisi tersebut kemudian dilanjutkan dengan doa bersama dan kegiatan keagamaan.

Dalam pelaksanaan tahun ini, salah satu rangkaian tradisi juga ditandai dengan penyembelihan dua ekor sapi dan 45 ekor kambing. Daging hasil penyembelihan kemudian menjadi bagian dari kegiatan kebersamaan dan sosial masyarakat.
Selain sebagai bentuk ungkapan rasa syukur, Sedekah Bumi juga menjadi sarana untuk mengenang dan menghormati para leluhur yang telah berjasa bagi kehidupan masyarakat desa. Ziarah ke makam leluhur, termasuk Makam Mbok Roro Bojo, serta rangkaian Haul Mbah Karimah, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi tersebut.
Nilai kebersamaan menjadi salah satu pesan utama dalam pelaksanaan Sedekah Bumi.

Masyarakat dari berbagai kalangan berkumpul, bergotong royong dan mengambil bagian dalam seluruh rangkaian kegiatan. Dalam beberapa pelaksanaan sebelumnya, tradisi ini juga sempat menarik perhatian masyarakat luas melalui berbagai kegiatan khas, seperti sebar uang dan rebutan tumpeng yang menjadi bagian dari kemeriahan acara.

Tidak hanya mempertahankan tradisi, kegiatan Sedekah Bumi Desa Dibe juga dipadukan dengan kegiatan keagamaan berupa pengajian. Sejumlah tokoh agama turut dihadirkan untuk memberikan tausiyah dan memperkuat pesan spiritual dalam kegiatan tersebut.
Dalam acara pengajian, masyarakat Desa Dibe berkesempatan mengikuti tausiyah yang menghadirkan KH. Alawi Muhammad dari Lamongan, Habib Hanif Al Badad dari Surabaya, serta Gus Candra Alimabad Mustofa.

Kehadiran para ulama dan tokoh agama tersebut diharapkan memberikan warna tersendiri dalam rangkaian Sedekah Bumi, sehingga tradisi yang diwariskan para leluhur tidak hanya menjadi kegiatan budaya, tetapi juga memiliki nilai keagamaan, sosial dan pendidikan bagi generasi penerus.

Sedekah Bumi Desa Dibe pada akhirnya bukan sekadar seremoni tahunan. Tradisi ini menjadi ruang untuk mempertemukan budaya, agama dan semangat gotong royong masyarakat. Di tengah perkembangan zaman, masyarakat tetap berupaya menjaga warisan leluhur sembari memberikan makna baru yang relevan dengan kehidupan sosial dan keagamaan saat ini.

Melalui Sedekah Bumi, masyarakat Desa Dibe kembali menegaskan bahwa menjaga tradisi bukan berarti berhenti pada masa lalu, melainkan merawat identitas dan kebersamaan untuk diwariskan kepada generasi yang akan datang.(jojo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here