Home Berita “Sela Kayu, Rekaman Porno Dramatisasi Pengungkapan Pelecehan di Pelayangan” Seberang kota jambi.

“Sela Kayu, Rekaman Porno Dramatisasi Pengungkapan Pelecehan di Pelayangan” Seberang kota jambi.

37
0

Kota Jambi,peloporkrimsus.com – Senin pagi dua mingguan lalu, pukul 11.00 WIB, rumah sederhana di Mudung Laut, Kecamatan Pelayangan, seberang kota Jambi, masih terasa sunyi.

Hanya ada N, bocah perempuan di bawah umur, dan neneknya yang menjaga cucu bayi. Tak ada yang menduga, kamar mandi kecil di belakang rumah akan menjadi panggung teror pertama dalam hidup N, kamis (16/07)

Air masih mengalir membasahi tubuhnya, ketika matanya menangkap ponsel kamera di sela-sela dinding kayu bagian atas. Bukan bayangan biasa, ternyata itu lensa kamera ponsel, mengintip, merekam setiap gerak-geriknya. Seketika, pekikan histeris meledak, memecah hening.

sontak di ikuti teriak nenek dari ruang tengah, refleks melesat ke pintu kamar mandi. Di balik ketakutan, N menjerit: “Ada HP di sela kayu di atas kepala, Nek! Orang rekam saya mandi!” Suara itu bukan hanya mengguncang hati sang nenek, tapi juga menembus dinding tipis, terdengar sampai ke rumah sebelah.

Warga mulai berhamburan keluar, mencari sumber keributan.

Nenek, dengan insting keibuan yang membara, langsung mengarahkan curiga pada tetangga belakang bernama A.

Namun A datang dengan tangan terbuka, menunjukkan ponselnya kosong. “Bukan ini, Nek,” jawab N masih gemetar.

Lalu, dari sela atas dinding, pandangan mengarah ke satu rumah lagi—rumah Bujang, pria beristri yang tinggal bersebelahan.

Tanpa menunggu lama, sang nenek mengetuk pintu Bujang. “Kenapa kau video rekam cucung aku? Apa maksud kau? Tau bapak N, bakal kau cari masalah nian!” sebut neneknya terpaksa nekat mendatangi terduga pelaku, sementara mengelak dengan alibi ia sedang tidur.

Tiga jam kemudian, orang tua N tiba. Mereka mendapati putrinya masih dalam dekapan tangis, tubuhnya bergetar, mata sembab ketakutan.

Tak ada waktu untuk diam. Warga pun berkumpul, termasuk hari petugas dari Bhabinkamtibmas setempat. Di situlah, di hadapan puluhan pasang mata, Bujang diminta menunjukkan semua ponselnya.

Tiga unit ponsel dikeluarkan. Namun N, dengan ingatan yang masih segar meski trauma, menunjuk satu di antaranya bentuk dan warnanya tak mungkin salah. “Itu,” bisiknya lirih, jari mungilnya bergetar. “Itu yang merekam saya.”

Dunia maya pun ikut bergemuruh. Aksi rekaman porno dan pelecehan terhadap anak di bawah umur ini membuat warga Mudung Laut meradang. “Menjijikkan, menjengkelkan!” seru mereka serempak.

“Kami harap Polresta Jambi segera menangkap pelaku. Jangan biarkan dia bebas. Anak ini harus mendapat keadilan.”

Kini, N masih terbungkus selimut trauma, sementara dinding kayu yang dulu hanya pemisah ruang, kini menjelma sakbis bisu yang menyimpan satu pertanyaan besar: kapan hukum akan berbicara lebih keras dari pekikan seorang anak?

Keluarga korban dan warga Mudung Laut menunggu langkah tegas kepolisian. Karena bagi mereka, keadilan tak bisa sekadar terucap—ia harus tertangkap.

Di hadapan media, seorang masih ada kekhawatiran atas perubahan prilaku anaknya dan akan membawa ke psikiater untuk menjaga kestabilan atas derita trauma yang di alaminya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here