Home Berita Uang Palsu Marak di Jambi, Pedagang Toko 24 Jam Jadi Sasaran

Uang Palsu Marak di Jambi, Pedagang Toko 24 Jam Jadi Sasaran

5
0

JAMBI,peloporkrimsus.com – Peredaran uang palsu mulai meresahkan sejumlah pedagang di Kota Jambi. Toko kelontong yang buka 24 jam diduga menjadi salah satu sasaran karena transaksi tetap berlangsung hingga tengah malam, saat penjaga toko mulai lelah dan tingkat kewaspadaan menurun.

Dalam sebulan terakhir, sejumlah pedagang mengaku menerima uang yang belakangan diketahui palsu. Jika dihitung dari beberapa korban yang ditemukan, kerugian yang dialami mencapai jutaan rupiah.

Salah seorang pedagang di kawasan 16 Mayang, Kecamatan Alam Barajo, Jambi, Lia, mengungkapkan pelaku diduga memanfaatkan situasi toko yang sedang ramai, Senin(24/8/26).

Menurut Lia, salah satu modus yang digunakan adalah melakukan transaksi pengisian saldo dompet digital menggunakan uang tunai. Dalam transaksi tersebut, uang asli diduga dicampur dengan uang palsu sehingga tidak langsung terdeteksi.

“Mereka datang saat toko ramai. Karena kami sibuk melayani, uang yang diterima tidak sempat dicek satu per satu. Setelah diperiksa, ternyata ada uang palsu yang diselipkan,” ujar Lia.

Ia mengatakan, transaksi mencurigakan juga terjadi pada malam hari. Salah satunya pada 21 Agustus sekitar pukul 23.35 WIB. Saat itu, adiknya, Muklis, sedang menjaga toko.

Dalam transaksi tersebut, uang tunai sekitar Rp400 ribu diterima. Belakangan, sebagian uang yang masuk diketahui tidak dapat digunakan karena diduga palsu.

Lia menyebut pecahan Rp100 ribu menjadi salah satu uang palsu yang diterima pedagang. Secara kasat mata, uang tersebut menurutnya sulit dibedakan dari uang asli.

“Kalau dilihat sekilas seperti asli. Tetapi setelah diterawang dan dirasakan, tekstur kertasnya agak berbeda. Kami baru sadar setelah diperiksa lebih teliti,” katanya.

Persoalan semakin membuat pedagang khawatir karena uang yang diduga palsu terkadang baru diketahui setelah disetorkan ke mesin ATM.

“Kalau sudah disetor ke ATM, uang yang diduga palsu ditolak mesin. Jadi kami baru tahu ada masalah setelah uang itu masuk ke ATM,” ungkapnya.

Lia mengaku kasus serupa bukan hanya dialaminya. Dalam satu bulan terakhir, sedikitnya tiga orang di lingkungan keluarganya disebut menjadi korban.

“Yang saya alami sekitar Rp400 ribu. Sarmi juga sekitar Rp400 ribu, kemudian paman saya sekitar Rp500 ribu. Itu yang kami ketahui dalam bulan ini,” ujarnya.

Jika dikumpulkan dari beberapa korban tersebut, nilai uang yang diduga palsu mencapai sekitar Rp1,3 juta.

Kondisi ini membuat pedagang meminta aparat kepolisian dan Bank Indonesia meningkatkan pengawasan terhadap peredaran uang palsu di Kota Jambi.

“Kami berharap polisi dan Bank Indonesia segera turun dan menindak tegas. Ini bukan kerugian kecil bagi pedagang. Kalau terus terjadi, kami yang menanggung kerugiannya,” kata Lia.

Menurutnya, pelaku diduga sengaja memilih waktu dan lokasi yang memungkinkan transaksi berlangsung cepat. Toko yang ramai dan buka hingga dini hari dinilai lebih rentan karena petugas tidak selalu memiliki waktu untuk memeriksa setiap lembar uang secara detail.

Peredaran uang palsu bukan hanya menimbulkan kerugian bagi pedagang. Jika terus terjadi, kondisi tersebut juga dapat mengganggu kepercayaan masyarakat terhadap keamanan transaksi tunai.

Pedagang pun diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap transaksi dalam jumlah besar, pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu, maupun transaksi yang dilakukan pada jam rawan.

Sementara itu, kepastian mengenai keaslian uang dan dugaan adanya jaringan pengedar masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut dari pihak berwenang.

Bagi pedagang, persoalannya sederhana: satu lembar uang palsu yang lolos dari pemeriksaan berarti kerugian langsung karena uang tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai alat pembayaran yang sah.

“Ini kejahatan serius dan jangan sampai dibiarkan berlarut-larut. Kami berharap polisi bersama Bank Indonesia bisa mengungkap dari mana uang palsu itu berasal dan siapa yang mengedarkannya,” ujar Lia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here