Home Berita Pecegahan Pernikahan Anak dibawah umur dengan Produktifitas yang Positif

Pecegahan Pernikahan Anak dibawah umur dengan Produktifitas yang Positif

222
0

Gunungkidul, Peloporkrimsus.com – Setelah menggelar kampanye pencegahan pernikahan anak dibawah umur dengan metode pengajian, mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) kembali menggelar penyuluhan pencegahan pernikahan anak dibawah umur melalui acara “Srawung” Ngobrolin Dampak Pernikahan Anak dibawah umur dan Solusi Pencegahan pada Sabtu 6 Juli 2019 sore di Balai Desa Karangduwet, Paliyan, Gunungkidul.

Dijelaskan Adam Qodar, selaku ketua panitia, kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa dalam melihat permasalahan yang terjadi di masyarakat.

“Gunungkidul untuk kasus pernikahan anak cukup tinggi, berdasar riset awal yang kami lakukan, fakta yang terjadi kasus pernikahan anak disebabkan oleh faktor agama, budaya, dan ekonomi,” jelas Adam.

Faktor agama, masih banyak orangtua yang beranggapan, daripada anaknya pacaran, dan itu merupakan perbuatan mendekati zina, maka lebih baik dinikahkan.

“Padahal dari segi kesiapan anak, baik mental, psikologi, emosional, dan ekonomi belum lah cukup,” imbuhnya.

Sementara untuk aspek budaya, masalah utama disebabkan oleh pergaulan bebas, yang kemudian terjadinya hamil di luar nikah. Dan pada aspek ekonomi, karena faktor kemiskinan, orangtua menikahkan anaknya agar tidak menjadi beban di keluarga.

Hadir memaparkan materi dalam acara tersebut yakni, dr Aprlia Dwi Iriani yang merupakan dokter dari Rumah Sakit Bedah Adelia dan Puskesmas Banguntapan 2, Damar Banyu Kencana seorang pengusaha muda Yogyakarta, dan Dhimas Badut yang merupakan hipnomotivasi.

Dalam paparannya, dr April mengatakan, hamil di usia sangat muda dapat meningkatkan risiko kesehatan pada wanita dan bayinya. Hal ini karena sebenarnya tubuh belum siap untuk hamil dan melahirkan.

“perempuan dalam usia anak masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan, sehingga jika hamil, pertumbuhan dan perkembangan tubuh akan terganggu,” jelasnya.

Umumnya, ada empat kondisi kehamilan yang sering muncul akibat pernikahan usia anak, yakni tekanan darah tinggi, anemia, bayi lahir dalam kondisi prematur, dan ibu meninggal saat melahirkan.

Selain itu, dampak dari pernikahan anak dibawah umur umumnya sering menyebabkan terganggunya kesehatan psikis atau mental wanita.

Salah satu ancamannya adalah wanita muda rentan menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan mereka tidak memiliki pengetahuan bagaimana caranya terbebas dari kekerasan itu.

“Kekerasan dalam rumah tangga sering terjadi dalam pernikahan anak dibawaj, hal ini disebabkan karena belum siapnya mental dari kedua pasangan yang menikah untuk menghadapi masalah-masalah yang muncul,” terangnya.

Sementara Damar, yang merupakan pembisnis es teller, yang saat ini sudah memiliki 15 cabang, baik yang ada di Yogyakarta maupun di luar Yogyakarta turut memotivasi anak remaja di desa Karangduwet untuk melakukan aktifitas atau pekerjaan yang produktif, ketimbang menikah di usia anak.

“Masih banyak hal positif dan produktif yang dapat dilakukan ketika usia muda, salah satunya dengan merintis usaha. Melalui dunia enterpreneur, anak akan disibukkan dengan bagaimana usaha yang sudah dibangun dapat berkembang dan sukses. Sehingga akan meninggalkan lingkungan maupun pemikiran-pemikiran untuk pergaulan bebas,” terang Damar.

Senada dengan Damar, Dhimas dalam paparannya menyampaikan, orangtua harus berperan aktif dan mendukung aktifitas anak yang produktif dan positif.

“Dukungan dan pantauan orangtua sangat dibutuhkan, agar anak terhindar dari lingkungan yang negatif, dan atau dapat merusak masa depan anak,” ucap Dimas.

Anak harus dibekali dengan pendidikan seksual yang baik, pendidikan seks seharusnya menjadi bentuk kepedulian orangtua terhadap masa depan anak dalam menjaga apa yang telah menjadi kehormatannya, terlebih bagi seorang perempuan.

“Pendidikan seks menjadi penting mengingat banyaknya kasus-kasus yang terjadi mengenai tindak kekerasan seksual terhadap anak dan remaja. Tetapi yang terjadi di lapangan justru orang tua bersikap apatis dan tidak berperan aktif untuk memberikan pendidikan seks sejak usia dini kepada anaknya,” terangnya.

Hadir dalam acara tersebut Suprihatin Perwakilan Pemerintah Desa Karangduwet, Uni Surajiah Perwakilan Kecamatan Paliyan, Achmad Affandi dari DP3AKBPMD, dan Retno Pertiwi Mewakili Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul.

Dalam acara tersebut turut digelar lomba baca puisi bagi remaja-remaja di desa Karangduwet dengan tema ‘Aku dan Masa Depanku.(her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here